Kuliah di Inggris Raya, Merintis Usaha Membangun Indonesia

Setidaknya 3.000 generasi muda Indonesia berangkat ke Inggris Raya untuk belajar. Mereka merintis usaha membangun Indonesia, berharap bisa berkontribusi menyelesaikan masalah bangsa ketika pulang ke kampung halaman.

Winarti Sarmin yang tengah menempuh kuliah program S-3 di University of Stirling adalah salah satunya. Di lab mikrobiologi kelautan kampus yang letaknya tak jauh dari Battle of Stirling Bridge – lokasi perang kemerdekaan Skotlandia dari England – Winarti menceritakan, “Banyak ikan nila Indonesia terserang francisellasis.”

Francisellasis mudah menyebar dalam air. Tanda serangan penyakit itu adalah bintik-biktik merah pada kulit. Bakteri Francisella tillapia, penyebab francisellasis akan memicu kegagalan fungsi limfa dan ginjal hingga berujung kematian. Akibatnya, produksi ikan nila berkurang.

Hingga saat ini, belum ada obat mujarab untuk mencegah penyakit itu. Memakai fasilitas salah satu universitas dengan jurusan kelautan terbaik di dunia itu, Winarti mencari solusi untuk mengatasi masalah Indonesia dengan sumber daya alam Indonesia.

“Saya pakai seawweed atau alga yang melimpah di Indonesia,” ungkap Winarti saat ditemui Kompas.com dalam media visit ke Inggris bersama Kedutaan Besar Inggris dan Garuda Indonesia, akhir November lalu. “Saya akan lihat kemampuan alga menghambat pertumbuhan Francisella tillapia.”

Untuk menguji efektivitas alga, dosen Poiliteknik Negeri Pontianak itu melakukan uji di tingkat jaringan maupun langsung pada ikan nila. Bila terbukti efektif, Winarti mengharapkan, alga bisa dicampur dalam pakan ikan nila sebagai bahan peningkat kekebalan tubuh.

Wahyu Septianto, mahasiswa S-2 Indonesia di University of Edinburgh, punya mimpi berbeda. Mengambil program studi bidang artificial intelligence (kecerdasan buatan), ia berharap bisa berkontribusi mengatasi permasalahan transparansi, pemerintahan, dan komunikasi publik.

Kecerdasan buatan mungkin terdengar sebagai bidang yang mengawang-awang. Namun, sebenarnya bidang itu sangat aplikatif. “Artificial Intelligence Facebook sedang mengembangkan aplikasi untuk memberikan deskripsi suara atas suatu gambar sehingga bisa membantu penderita tunanetra,” katanya.

Bagi Indonesia, kecerdasan buatan pun sangat aplikatif. “Penerapannya yang paling seksi ya good governance. Opinion mining di media sosial. Dianalisis sentimennya, lalu coba dipahami apa yang dirasakan oleh warga media sosial.”

Wahyu sendiri tertarik pada deteksi dan analisis rumor. Di era media sosial, kecerdasan buatan berguna untuk mendeteksi berita hoax. Dengan data linguistik, kecerdasan buatan dapat mendeteksi kredibilitas suatu akun, pernyataan kontroversial yang dilontarkan, dan penyebarannya.

“Riset untuk mendeteksi rumor atau hoax sedang gencar dilakukan 2-3 tahun terakhir, tapi kasusnya adalah untuk bahasa Inggris. Untuk bahasa Indonesia bisa saja dilakukan, tapi butuh ada yang mengumpulkan data. Sejauh ini di Indonesia belum ada yang melakukan sejauh yang saya tahu,” jelasnya.

Beragam Bidang

Mahasiswa Indonesia yang datang ke Inggris Raya menekuni beragam bidang. Selain Winarti dan Wahyu yang menekuni bidang-bidang “serius”, ada juga yang mengambil jurusan yang lebih “millenial”, seperti fashion, komputer, dan keolahragaan.

Salsabila Farania misalnya, mengambil jurusan fashion design di Coventry University. Ia ingin menjadi desainer produk fast fashion. Sementara, Danapati Suprakarsa mengambil jurusan sport marketing. Ia ingin menjadi agen untuk memajukan dunia olahraga Indonesia.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, Aminudin Aziz,mengungkapkan, sebagian besar mahasiswa Indonesia mengambil jurusan sains dan teknologi. Untuk tahun ajaran 2016/2017, ada 254 mahasiswa Indonesia yang mengambil jurusan teknologi dan 152 mengambil jurusan sains.

Sains dan teknologi memang menjadi keunggulan Inggris. Universitas dengan keunggulan bidang itu diantaranya Imperial College London, Queen Mary University of London, University of Warwick, University of Glasgow, University of Edinburgh, dan London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Bidang ilmu sosial dan politik juga menjadi favorit. Tahun ajaran ini, ada 104 mahasiswa Indonesia yang mengambil jurusan itu. Penurunan terjadi pada jurusan hukum. “Sebelumnya masuk 10 besar jurusan yang diminati, sekarang tidak,” kata Aminuddin.

Untuk perguruan tinggi, banyak mahasiswa Indonesia yang tetap memilih kuliah di London walaupun biaya hidupnya mahal. Universitas favorit mahasiswa Indonesia adalah University College London serta Imperial College London. Jumlah mahasiswa Indonesia di perguruan tinggi itu untuk tahun ini masing-masing 101 dan 79 orang.

Secara umum, Aminuddin mengungkapkan bahwa minat mahasiswa Indonesia untuk belajar di Inggris tinggi. Ia mengatakan, “Inggris adalah negara Eropa pertama tujuan penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).”

Ada banyak alasan mengapa Inggris memiliki keunggulan. Rizal Sukma, Duta Besar Indonesia untuk Inggris yang juga lulusan London School of Economics and Political Science (LSE) mengungkapkan, “Belajar di Inggris lebih efektif. Untuk S-1 hanya 3 tahun dan S-2 hanya 1 tahun.”

Norman Yanuar, mahasiswa Indonesia di University of Oxford mengatakan, Inggris punya daya tarik karena menjadi tempat berkumpulnya orang-orang terbaik. “Banyak orang-orang hebat datang ke kampus memberikan kuliah umum. Kita bisa belajar banyak secara langsung,” katanya.

Jacqui Jenkins, Head of Higher Education Engagement, British Council, mengungkapkan bahwa Inggris menjadi destinasi belajar kedua di dunia. “Biaya hidup di Inggris memang tinggi, tapi kualitas pendidikan di Inggris juga masuk yang terbaik,” katanya.

Dari 10 universitas terbaik dunia, Inggris mencatatkan 4, yaitu University of Oxford, University Cambridge, London School of Economics and Plitical Science, dan Imperial College London. “Soal biaya, dengan waktu belajar di Inggris yang lebih singkat, jika ditotal mungkin juga akan sama dengan negara lain,” kata Jenkins.

Potensi

Banyaknya generasi muda Indonesia yang belajar di Inggris adalah potensi. Bagi Inggris, mahasiswa Indonesia adalah sarana mendapatkan pendapatan. Sektor pendidikan dengan slogan internasionalisasinya menyumbang 2,8 persen pendapatan Inggris.

Sementara bagi Indonesia, mahasiswa adalah salah satu cara meningkatkan publikasi ilmiah. Tahun 2015, jumlah publikasi ilmiah Indonesia 5.421. Jumlahnya memang ribuan, namun itu masih lebih rendah daripada Malaysia dan Thailand. Indonesia bahkan tak terpaut jauh dari Vietnam.

“Kita harus mengupayakan skema sehingga setiap publikasi ilmiah oleh mahasiswa Indonesia di Inggris mencantumkan institusi di Indonesia. Jadi institusi kita juga ikut naik,” usul Irwanda Laory, warga Indonesia yang menjadi pengajar di University Warwick.

Menurutnya, hal itu bisa diupayakan dengan memodifikasi persyaratan beasiswa LPDP. Mahasiswa yang akan melakukan penelitian, misalnya, diminta untuk mencari kolaborator dengan peneliti Indonesia. “Tanpa itu, riset mahasiswa Indonesia hanya memberikan manfaat ke institusi asing,” katanya.

Irwanda juga menilai bahwa pemerintah harus lebih ketat dalam memberikan beasiswa. Ini berguna memastikan setiap orang yang dikirim mendapatkan hasil terbaik. “Brunei itu kalau tidak dapat A maka beasiswanya akan dipotong,” ujarnya.

Namun, yang paling penting adalah menyiapkan kesempatan berkarya bagi setiap mahasiswa lulusan luar negeri. Ketersediaan kesempatan itu yang akan menjaga semangat anak muda untuk membangun bangsanya.

Sumber: http://sains.kompas.com/read/2016/12/22/21024131/kuliah.di.inggris.raya.merintis.usaha.membangun.indonesia

%d bloggers like this: