Di Ambon 70 Ilmuan Diskusi Masa Depan Sains

Sebanyak 70 ilmuwan asal Indonesia dan Amerika Serikat mendiskusikan masa depan sains dalam Indonesian -American Kavli Frontiers of Science Symposium (KFoS) ketujuh, di Ambon, Rabu (19/7).

Digelar oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Akademi Sains Nasional Amerika Serikat (National Academy of Sciences – NAS), simposium tersebut merupakan bentuk komitmen dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Sebanyak 70 ilmuwan dari berbagai lembaga sains dan universitas terkemuka dari dua negara itu turut berpartisipasi membahas perkembangan terkini di masing – masing bidang keahlian.

Dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden NAS, Diane Griffin, simposium tahunan ini dijadwalkan akan berlangsung hingga 22 Juli 2017, dengan menghadirkan para ilmuwan dari Indonesia dan Amerika Serikat sebagai pembicara.

Dari Indonesia ada Hawis Madduppa dan Perdinan dari Institut Pertanian Bogor, Hary Devianto dari Institut Teknologi Bandung, Tjhin Wiguna dan Endah Triastuti dari Universitas Indonesia, dan pemateri dengan referensi khusus dari Indonesia, Zulfan Tadjoeddin dari Universitas Western Sydney.

Sedangkan, Amerika Serikat dihadirkan Karen J. Osborn (Lembaga Smithsonian dan Museum Sejarah Alam Nasional), Alison Sweeney (Universitas Pennsylvania), Yueh Lin (Lynn) Loo (Univesitas Princeton), dan Joseph Berry (Laboratorium Energi Terbarukan Nasional).

Selain itu, pemateri lainnya adalah Noah Planavsky (Universitas Yale), Jessica Conroy (Universitas Illinois), Nichole Lighthall (Universitas Central Florida) dan Sunil Gandhi (University California, Irvine).

Sedikitnya ada enam tema besar multidisiplin yang dibahas, yakni “Exploring Marine Environment: From Coral Reefs to the Deep Sea”, “Emerging Energy Technologies”, dan “Earth’s Climate System”.

Kemudian “Neuroplasticity”, “Why and How Populism and Identity Politics Re-emerge in the Current Globalized World?”, dan “Human Behavior and Cybersecurity.” Ketua AIPI, Prof. Sangkot Marzuki mengatakan ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat di berbagai belahan dunia.

Oleh sebab itu, diskusi antara ilmuwan Indonesia dengan negara lain amat penting untuk dilakukan sebagai sarana bertukar pemikiran dan pengalaman. Hal itu, lanjutnya, akan memperkaya khasanah para ilmuwan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang keahlian dan menjembatani kerja sama lintas disiplin, terutama dalam memecahkan berbagai tantangan yang

“Topik-topik ini dipilih untuk merepresentasikan berbagai bidang keilmuan yang relevan dengan tantangan yang dihadapi manusia, tanpa mengenal batas-batas negara,” tandas Sangkot.

Wakil Presiden Akademi Sains Nasional Amerika Serikat (National Academy of Sciences – NAS), Diane Griffin, sambutannya mengatakan ini adalah ketujuh kalinya penyelenggaraan KFoS, dan pihak NAS sangat bersemangat untuk mensponsori simposium yang membicarakan tentang ilmu pengetahuan di Indonesia.

“Sangat fantastis, kita akan membicarakan tentang ilmu pengetahuan di Ambon pada 18 Juli 2017. Ini adalah penyelenggaraan KFoS yang ketujuh dan penyeleggara bersemangat untuk mensponsorinya,” ujarnya.

NAS, kata dia, adalah organisasi non-pemerintah yang didirikan pada 1863 oleh Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan di negara adi daya tersebut, baik melalui program penelitian maupun studi-studi dengan subjek terfokus.

Karena itu, NAS bertanggung jawab untuk memberikan analisis, saran independen dan objektif kepada negaranya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Anggota NAS adalah kontributor aktif untuk komunitas ilmiah internasional dan telah memberikan kontribusi terhadap kemajuan sains.”NAS didirikan oleh Presiden Abraham Lincoln yang sebenarnya berada di tengah perang saudara. Ia memiliki pandangan ke depan mengenai banyak hal hanya karena masalah yang sedang terjadi di Amerika Serikat saat itu,” katanya.

Selain berkontribusi terhadap negaranya, tugas lain NAS, menurut Diane, adalah untuk mempromosikan sains dan bekerjasama dengan akademi lainnya di berbagai belahan dunia, dengan mengangkat isu-isu penting ilmu pengetahuan secara internasional.

“Latar belakang NAS adalah bekerjasama dan bermitra dengan akademi sains lainnya. Dalam hal ini adalah Indonesia untuk penyelenggaraan simposium. Selamat datang di KFoS Indonesia -Amerika Serikat. Kami berharap semoga anda sekalian mendapatkan ide-ide bagus selama pertemuan ini” katanya.

%d bloggers like this: