KFOS Dorong Ilmuwan Indonesia Berpikir Berbeda

Penyelenggaraan Simposium Indonesian-American Kavli Frontiers of Science (KFoS) di Ambon pada 17-21 Juli 2017, dinilai akan mendorong para ilmuwan muda Indonesia melihat berbagai masalah dengan cara pandang yang berbeda.

“Saya pikir sangat berguna bagi Indonesia karena ilmuwannya dapat menjembatani berbagai masalah dengan cara pandang yang berbeda. Mereka bisa lebih sukses,” kata Bruce Alberts, mantan Presiden Akademi Sains Nasional Amerika Serikat (National Academy of Sciences/NAS) periode 1993-2005, di Ambon, Sabtu (22/7).

Alberts yang juga ahli biokimia mengatakan, seminar para ilmuwan Indonesia dan Amerika Serikat tersebut, bukanlah sekadar pertemuan tahun, melainkan juga membangun jaringan kerja.

Banyak dari ilmuwan di Tanah Air tidak saling mengenal satu sama lain sebelumnya, karena itu dipandang sangat penting bagi mereka untuk terkoneksi lintas universitas, penelitian dan disiplin ilmu, sekaligus juga terhubung dengan kolega dari Amerika Serikat.

Pertemuan dan pembahasan antarilmuwan yang berbeda disiplin ilmu di dalam ruang diskusi akan memberi pengaruh positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan nasional.

Isu-isu yang diangkat dalam KFoS 2017, seperti tentang perikanan maupun bagaimana mengurangi masalah lingkungan, semuanya memiliki latar belakang ilmiah penting yang dibutuhkan para ilmuwan dalam penelitian dan kemudian membuat keputusan terbaik.

“Banyak yang bisa disimpulkan secara acak karena kita tidak tahu siapa yang ingin atau akan bekerja dengan siapa, ide-ide baru yang akan muncul, orang-orang dari latar belakang keilmuan yang berbeda, menghubungkan mereka dengan ilmu pengetahuan dunia,” ucapnya.

Indonesia, kata Alberts, memiliki begitu banyak peluang unik untuk membantu bangsa melalui ilmu pengetahuan.
“Semoga bangsa ini bisa membuat koneksi baru sehingga mereka bisa membuat kemajuan yang lebih baik lagi di masa depan untuk sainsnya,” ucapnya.

Indonesian-American KFoS Symposium merupakan seminar tahunan yang digelar oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan NAS. Kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di tanah air.

Sumber: http://www.republika.co.id/amp_version/othemm284

%d bloggers like this: